Thursday, 21 March 2013

Hubungan Suhu, Tekanan,dan Kedalaman Laut



Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Suhu yang paling tinggi berada di permukaan. Semakin dalam suatu wilayah perairan maka tekanan menuju dasar akan semakin besar. Hal ini mengakibatkan suhu semakin turun. Salah satu faktorya tidak ada cahaya yang dapat menembus. Faktor yang mempengaruhi suhu permukaan laut adalah letak ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan awan (Hutabarat dan Evans, 1986). Penurunan gradient suhu yang sangat menyolok terjadi pada zona pycnocline, yakni kedalaman anatara 200 meter sampai dengan 1000 meter. Semakin dalam akan terjadi perubahan suhu yang nyaris konstan. Lapisan permukaan hingga kedalaman 200 meter cenderung hangat, hal ini dikarenakan sinar matahari yang banyak diserap oleh permukaan. Sedangkan pada kedalaman 200-1000 meter suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air laut relatif konstan dan biasanya berkisar antara 2-4°C.
Satuan tekanan dapat dihubungkan dengan satuan volume dan suhu. Semakin tinggi tekanan di dalam suatu tempat, maka suhu akan semakin tinggi. Ini cara untuk menjelaskan mengapa suhu di pegunungan lebih rendah daripada di dataran rendah. Tekanan sebuah cairan bergantung pada kedalaman cairan di dalam sebuah ruang dan gravitasi juga menentukan tekanan air tersebut. Hubungan ini dirumuskan sebagai berikut: “P = ρgh” dimana ρ adalah masa jenis cairan, g (10 m/s2) adalah gravitasi, dan h adalah kedalaman cairan.
Manusia di bumi ini telah sependapat bahwa di permukaan laut memiliki tekanan 1 atm (atmosfer). Apabila kita berada di kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut, maka kita akan merasakan bahwa tekanan akan bertambah menjadi 2 atm. Demikian selanjutnya hingga kedalaman 50 meter di bawah permukaan laut akan memiliki tekanan sebesar 6 atmosfer. Tekanan yang begitu besar tersebut sebenarnya berasal dari tambahan berat massa air laut setiap 10 meter. Bandingkan dengan keadaan di daratan, setiap mendaki pada ketinggian 100 meter diatas permukaan laut, maka tekanan akan berkurang hanya satu cmHg.
Gaya akibat tekanan bekerja dari tekanan yang berbeda pada satu titik ke titik lainnya. Gaya ini bekerja dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Di laut, gaya gravitasi yang bekerja (ke arah bawah) akan diimbangi oleh gaya akibat adanya perbedaan tekanan tersebut (ke arah atas), sehingga air yang bergerak ke bawah tidak akan mengalami percepatan. Tekanan air memiliki berbagai sifat. Pertama, ada yang tegak lurus ke seluruh permukaan kontaknya, misalnya air yang berada di dalam gelas, di bak mandi, atau kolam berenang. Kedua, air selalu memberikan tekanan ke semua arah.
Sedangkan agaimana pengaruh kedalaman atau ketinggian terhadap tekanan air? Apakah sama? Jawabnya tentu tidak. Lihatlah orang yang sedang menyelam / diving. Semakin dalam dia menyelam, maka tekanan air semakin kuat, tidak banyak penyelam yang kuat bertahan dalam tekanan tinggi. Termasuk air laut (air asin) dengan air danau (air tawar) tekanannya juga berbeda. Berdasarkan penjelasan itu, maka tekanan air juga berbanding lurus dengan massa jenis dan kedalaman zat cair. Tekanan pada air begantung daripada massa air yang berada diatasnya. Rumus yang digunakan untuk mengukur kedalaman dari harga tekanan adalah persamaan hidrostatis.
Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah permukaan laut yang biasa diukur dalam atmosfir (atm). Tekanan hidrostatis bebanding lurus dengan kedalaman air. Semakin dalam semakin tinggi juga tekanan hidrostatis. Setiap kedalaman 10 m tekanan hidrostatik bertambah 1 atm, dan seterusnya. Dan pada kedalaman 50m ikan mengalami tekanan hidrostatik sebesar 50 atm, itu berlaku secara proporsional atau terjadi pada seluruh bagian tubuhnya. (Helfman Etal, 1997)

Dalam grafik  (tekanan-suhu) titik didih memisahkan antara wilayah gas dan cair. Dan berakhir di titik kritis. Yang dimana fase cair dan gas menghilang menjadi fase superkritis tunggal. Ini dapat diamati di grafik ke 3 (densitas-tekanan untuk CO2). Jauh dibawah suhu kritis, misalnya di 280K. Dengan meningkatnya tekanan, gas terkompres dan akhirnya (>40bar) mengembun. Dan mengakibatkan diskontinuitas (garis titik-titik vertical).



Daftar Pustaka



No comments:

Post a Comment