BBM NAIK ATAU TIDAK Y??
GALAU.. *_*
eberapa waktu yang lalu,
Indonesia digemparkan dengan adanya isu kenaikan BBM. Mulai dari anak SD hingga
kakek nenek ikut berpartisipasi dalam menyuarakan suaranya untuk menolak
kenaikan BBM. Misalnya yang dilakukan para perlajar yang mendoakan SBY agar
dibukakan pintu hatinya supaya tidak jadi menaikan BBM, lalu sebagian besar
para mahasiswa dan buruh yang menolak dengan aksi turun ke jalan sambil
melakukan tindakan-tindakan yang anarkis, dan yang paling mengharukan adalah
mahasiswa yang di Surabaya mengadakan pengumpulan koin untuk membantu
pemerintah menutupi dana APBN, sebegitu tidak mampukah pemerintah menutupi dana
APBN sampai-sampai harus dibantu oleh rakyatnya? Kalau dilihat dari aksi-aksi
di atas itulah demokrasi yang diterapkan
di Indonesia, sehingga siapa saja bebas menyuarakan aspirasinya. Tapi yang jadi
pertanyaan, apakah aksi tersebut sesuai dengan aturan? “Nanti, kita temukan jawabannya.”
Naiknya
BBM menimbulkan pro-kontra yang terjadi di kalangan pemimpin Negara hingga
masyarakat. Pertama kita lihat dari sisi pronya. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Departemen Bidang Keuangan
DPP Partai Demokrat M Ikhsan Modjo, Minggu (25/3/2012) di Jakarta, setuju dengan kenaikan BBM dikarenakan berbagai alasan,
diantaranya:
1. Kenaikan
harga BBM bersubsidi dipandang sebagai suatu hal yang tak terhindarkan,
menyusul meroketnya harga minyak mentah dunia.
2.
Keberpihakan pada
rakyat kecil. Saat ini, 10 persen dari orang kaya menggunakan Rp 5,8 triliun
dari subsidi BBM. Sementara itu, 10 persen orang miskin menggunakan Rp 500
miliar subsidi BBM.
3.
Kenaikan harga BBM juga
dipandang sejalan dengan upaya penghematan dan penciptaan energi terbarukan.
4.
Dana yang sebelumnya
digunakan untuk subsidi BBM dapat dialihkan untuk pembangunan infrastruktur.
5.
Pengurangan subsidi
turut menekan kasus penyelundupan BBM ke negeri tetangga. Saat ini, harga BBM
di Singapura mencapai Rp 15.695 per liter, sementara di Malaysia sekitar Rp
5.750.
6.
Pengurangan subsidi
juga membantu pemerintah 2014. Pemerintahan yang akan datang tak terbebani
subsidi BBM yang tinggi.
Keenam
alasan tersebut, menurut pemerintah bertujuan untuk menyelamatkan perekonomian Negara dari dampak kenaikan harga minyak
mentah dunia agar tidak berimbas pada nilai tukar rupiah, takaran pertumbuhan,
dan angka inflasi. Ditambah lagi pemerintah menambah ayat 6a dalam pasal 7
Undang-Undang No 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, yang dimana pasal itu
menyatakan pemerintah mendapat kewenangan menaikan atau menurunkan harga BBM di
saat kondisi tertentu, yakni manakala ada perubahan 15 persen atau lebih
rata-rata selama enam bulan terakhir terhadap ICP. Ayat tersebut merupakan ayat
yang sangat kontorversial dikalangan pejabat dan masyarakat.
“Temukan makna dan jawaban dari
ayat tersebut nanti.”
Disisi lain
ada juga yang menyetujui kenaikan BBM. “Dikutip dari pendapat seorang yang ahli
dalam perkonomian”, dalam situs sosialnya, yaitu:
Konsumsi BBM kita 1,3 juta barel perhari, sedangkan
lifting minyak 930.000 barel perhari. Kurang 370.000 barel perhari. Maka
pemerintah impor BBM (Minyak Mentah).
Saat ini harga minyak mentah dunia terus naik,
sekarang US$ 120/barrel. Ini berdampak pada negara-negara pengimpor Minyak,
termasuk Indonesia. Indonesia memang penghasil minyak, tapi produksinya sudah
dibawah 1jt barrel/hari, padahal kebutuhan DN sudah diatas 1jt barrel/hari.
Selain itu, sumur-sumur minyak mentah di Indonesia
dikuasai oleh perusahaan luar (Chevron dll), jika Pertamina akan mengolah
minyak tersebut harus beli. Oleh karena itu harga minyak mentah sangat
berpengaruh terhadapa harga bensin kita. Indonesia juga impor arabian crude oil
untuk produksi pelumas dan lilin serta aspal.
Untuk menjadi bensin, Pengolahan crude sangat
mahal. Selain itu, harus di destilasi dan di striping, juga butuh reforming
*penaikan bilangan oktan* agar oktannya sesuai. Dan itu MAHAL. Butuh katalis
(satu drum = 300 juta) padahal di reaktor ada 700 m3 katalis yang
berarti bisa ratusan drum. Dan itu diganti setiap bulan minimal 1 drum.
Mari sekarang kita hitung, harga minyak mentah
sekarang US$120/barrel (US$1 = Rp9,250 & 1 barrel = 160 liter) berarti
Rp6.937,5/ltr. Ini harga minyak mentah yang belum diolah . Normalnya harga
bensin itu Rp 11000 agar pabrik untung. Jadi jika harga bensin menjadi Rp 6.000an/ltr,
itu wajar. Perlu diketahui juga harga BBM di Indonesia itu termurah di Asia.
Selain itu, bagus agar kita semua tidak boros
menggunakan bensin. Produksi minyak terus berkurang, Padahal pemakaiannya
meningkat. Jika harga Rp 4.500/ltr, berapa besar yang harus disubsidi oleh
Pemerintah? kalau terus menerus disubsidi, tidak dikurangi, pemerintah harus
menanggung rugi. Bayangkan berapa juta mobil dan motor di Indonesia? Di banding
dengan negara lain seperti vietnam, thailand, dan india, taraf kehidupan di
indonesia lebih tinggi.
Pertanyaan kedua, “Mengapa subsidi BBM harus dikurangi untuk menekan harga minyak
mentah yang terus meroket ? Mengapa tidak anggaran dana DPR, anggaran
perjalanan dinas pejabat negara yang dipangkas ??”
Pemangkasan anggran dana DPR, dan anggaran
perjalanan dinas jika dihitung tidak sampai 137 T, itu masih kurang. Dan perlu
diketahui subsidi BBM ini lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah keatas.
“Lalu apa
jaminan/kompensasi yang diberikan Pemerintah untuk rakyat miskin ??” Untuk
saat ini bantuan yang akan diberikan Pemerintah untuk rakyat miskin adalah BLSM
(BLT), yang menjadi fokus utama adalah bagaimana agar penyaluran ini bisa
efektif dan tepat sasaran, perlu pengawasan dari berbagai pihak mulai dari
Pemerintahan sampai masyarakat.
Dilihat dari pernyataan ada dampak positif dan negatif
dari kenaikan harga BBM. Misalnya solusi yang dibuat pemerintah yaitu akan
memberikan BLSM kepada rakyat yang kurang mampu. Apakah itu akan menuntaskan
masalah? Atau malah akan mendidik rakyat menjadi malas dan kurang baik? “Kita semua akan mengetahui jawabannya nanti.”
Oke, sekarang saatnya untuk melihat dari sisi
kontra terhadap kenaikan BBM. Banyak masyarakat menilai dari kasus kenaikan BBM
itu akan membuat sebagian masyarakat dari yang kurang sejahtera menjadi lebih
tidak sejahtera. Menurut mereka dengan kenaikan BBM itu akan menyengsarakan
masyarakat kecil. Ditambah lagi dampak dari kenaikan BBM itu akan berimbas
kepada kenaikan bahan pokok, pendidikan, kesehatan, angkutan umum, dll. Saat
ini jumlah penduduk miskin (kurang mampu) yang ada di Indonesia berjumlah 29,89 juta orang atau sekitar 12,36 persen
dari jumlah penduduk Indonesia, itu
artinya jika harga BBM naik otomatis jumlah penduduk miskin pun akan naik pula.
Sedangkan tujuan pemerintah adalah untuk menyejahterakan rakyat, tapi apakah
rakyat akan sejahtera jika penduduk miskin semakin bertambahnya waktu semakin
banyak? “Temukan jawabannya nanti”
Di kutip dari pernyataan warga yang kurang sejahtera
dalam situs sosialnya, yaitu:
1. Setau saya dalam pelajaran sejarah, Indonesia
itu negara kaya raya yang bahkan tongkat batu saja jadi tanaman. Kolam susu
dimana-mana. Masa buat bayar subsidi BBM aja ga mampu? Ya gak mampu lha wong
uangnya entah kemana.
2. Banyak anggaran gak masuk akal seperti studi
banding, renovasi toilet, pengadaan laptop, pengadaan mobil baru dan lain
sebagainya. Dari anggota pemerintahan paling atas sampai pemerintah daerah juga
sering melakukan tindakan tak masuk akal. Kalau ini bisa dihemat bahkan
dikurangi, dananya bisa dialihkan buat subsidi BBM kan? Mana yang lebih penting
studi banding atau kesejahteraan rakyat? Ato mana yang lebih penting bikin
toilet 2 miliar dengan bikin rakyat bisa makan nasi?
3. Alasan yang saya dengar tadi di ILC (kalo ga
salah dari pak WaMen), bahwa kenaikan BBM ditujukan untuk kesejahteraan rakyat
meniru negara lain (padahal situasi politik dan rakyatnya beda). Logikanya,
kalau emang itu bisa membuat rakyat makin sejahtera, naikkan saja
setinggi-tingginya oms!
4. BLT tak menyelesaikan masalah. Bukankah
kenaikkan BBM selalu diikuti dengan kenaikkan harga-harga barang dan bahan
pangan? Apakah BLT senilai 150 ribu/bulan itu mampu mengatasi semua kenaikan
tersebut? Bagi orang menengah ke atas dan kaya, kenaikan BBM tak jadi masalah
karena mereka rata-rata pengusaha yang punya bisnis sendiri. Kalau BBM naik, ya
dinaikkan saja harga jualnya, beres kan? Yang ada, rakyat miskin makin miskin.
150 ribu ga bisa dibandingkan dengan penderitaan yang belum bisa dihitung
seberapa banyaknya.
5. Kalaupun benar bisa membantu, BLT hanya
dirasakan rakyat miskin. Sedangkan rakyat yang dianggap kaya juga punya hak dan
kewajiban yang sama. Kalau BBM tak naik, semua rakyat akan menikmatinya.
6. Tuntaskan kasus yang lebih penting, seperti
korupsi misalnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau koruptor itu sangat merugikan
negara terutama rakyat. Kalau koruptor ditindak dengan benar, uang negara
dikembalikan, buat subsidi BBM pasti akan sangat mampu. Pilih mana, menaikkan
BBM yang menyengsarakan rakyat atau menindak koruptor yang mengambil uang
rakyat?
7. Apakah karena banyak pengguna mobil dan motor
yang bertambah tiap tahunnya? Uang 500 ribu aja sudah mampu buat bawa pulang
motor, wajar kan kalo konsumsi BBM meningkat dari tahun ke tahun? Toh tak ada
larangan dari pemerintah untuk tidak membeli lebih dari satu motor. Kalau
pengen jumlah pengguna kendaraan pribadi berkurang, gampang oms, benahin dulu
itu transportasi. Berantas preman dan para pemerkosa yang bikin rakyat jadi
males dan takut naik kendaraan umum.
8. Banyak yang demo, berarti banyak yang tak puas.
Kalau tak puas berarti menderita, dan kalau rakyat menderita berarti pemerintah
gagal.
9. BLT tak membuat rakyat jadi mandiri, tapi
semakin bergantung pada bantuan pemerintah. Dari pada memberikan uang tunai
yang dari segi bisnis tak mendidik, mendingan berikan lapangan kerja yang lebih
baik atau apapunlah. Setau saya masyarakat yang mandiri akan membuat negara
menjadi lebih makmur.
Dari pernyataan diatas memang sangat nyiris jika
melihat dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Selain
itu ada kutipan lain yang dikemukakan oleh seseorang dari teknik perminyakan
ekonomi yang pekerjaannya Petroleum Economist dalam situs sosialnya, yang
isinya yaitu:
Pemerintah telah mengatakan hal yang tidak benar
kepada rakyatnya, karena mengatakan mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 126 trilyun,
sedangkan kenyataannya kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun. Bahasa
gampangnya Pemerintah untung Rp. 97,955 trilyun bukan rugi. Bahwa subsidi BBM
itu sebenarnya tidak ada (fiktif) karena Pertamina membeli BBM dari Pemerintah
dengan harga pasar.
Jabaran di bawah ini akan menjelaskan apakah opini
di atas itu benar adanya. Berikut beberapa poin yang akan saya sampaikan.
1.
Asumsi kurang tepat untuk memberikan 70% bagian
minyak untuk Pemerintah. Bagi hasil Pemerintah rata2 hanya berkisar
60% setelah dikurangi biaya cost recovery biaya ngebor dll). Jadi nett-nya buat
Pemerintah hanya 60%. Akan tetapi hitungan kebanyakan asumsi yang beredar
dikalangan luas tetap bisa dipakai karena angka 237,615 jt bbl kurang lebih pas
kalau dihitung secara total yang telah ditambahkan oleh pemasukan yang lain
meskipun beliau tidak tepat kalau mengasumsikan hak negara 70%.
2.
Saya coba ambil data RAPBN dari DepKeu. Seperti
dapat dilihat bahwa penerimaan migas naik turun mengikuti harga minyak dunia. Jadi
benar saja penerimaan negara akan naik mengikuti naiknya harga minyak. Akan
tetapi bawah kita dapat lihat bahwa penerimaan pajak migas dan pendapatan migas
tadi jika kurangi dengan subsidi BBM yang membengkak akan menyebabkan semua
pendapatan migas ini sia-sia karena harus mengkonpensasi tingginya subsidi
dalam negri. Dari data yang saya hitung terlihat bahwa penerimaan total negara
di sektor migas (penerimaan + pajak migas) di tahun 2012 sesuai dengan hitungan
yaitu disini sebesar Rp 214,675 tr sedangkan di hitungan pemerintah sebesar Rp
224,546 tr (selisih 10 tr dapat diabaikan). Disisilain terlihat kalau
Pemerintah “untung” Rp 97,5 tr di tahun 2012 (angkanya kurang lebih sama kalau
kita lihat ditahun 2012 yaitu Rp 91,076 tr). Pertanyaannya benarkah?
3.
Sebelum menjawab pertanyaan benarkah selisih itu
untung ? Pemerintah mari kita lihat grafik perhitungan saya yang merupakan plot
antara selisih Penerimaan sektor migas yang disebut “untung” di beberapa tahun
belakangan. Dapat kita lihat bahwa sebenarnya angkanya cenderung turun. Kalau
kita lihat di tahun 2011 yaitu Rp 108,674 tr dan di tahun 2012 Rp 91,076 tr.
4.
Seperti kita tahu bahwa selisih penerimaan negara
ini akan digunakan untuk APBN atau akan dibelanjakan negara. Coba bayangkan
sebagai Presiden dan mengatur APBN. Anda punya uang di tahun 2011 Rp 108,674 Tr
dan di tahun 2012 anda hanya akan mempunyai uang Rp 91,076 Tr sedangkan di
tahun 2011 anda telah mengalokasikan dana itu sedemikian rupa misalnya 20%
untuk pendidikan, 10% untuk infrastruktur, dll sehingga dana Rp 108,674 Tr
habis terpakai (bahkan kurang). Oleh karena itu kita harus ngutang). Nah
parahnya di tahun ini, anda hanya mempunyai uang Rp 91,076 Tr dan diramalkan
pengeluaran anda meningkat bahkan harus meningkat karena mendesaknya kebutuhan
infrastruktur dan pertahanan. Pertanyaan saya bagaimana cara anda mengatasi
kekurangan anggaran anda ini? Hutang ke luar negri, pangkas pengeluaran di
sector-sektor lain, minta hibah ke negara tetangga, atau kurangi subsidi BBM
dengan tujuan “untungnya” tadi meningkat sehingga kita ga perlu ngutang? Mungkin
sekarang anda sudah tahu jawaban apa yang diambil oleh Pemerintahan ini. Jadi
kalau pertanyaannya apakah itu untung? Mungkin sekarang anda sudah bisa
menjawabnya sekarang karena pertanyaan itu tidak dapat dijawab dengan sepintas
lalu. Kalaupun anda sebut itu untung, itupun akan digunakan untuk belanja
negara dan sekarang selisih yang anda sebut sebagai untung tersebut berkurang
dari tahun lalu sehingga anda harus putar otak untuk mencari jalan keluar untuk
mencari darimana uang untuk menutupi defisitnya.
5.
Pertanyaan: “OK lah untung or bukan untung,
whatever! Tapi itu kenapa Pertamina membayar Pemerintah dengan harga pasar
bukan dengan harga biaya produksi minyak?”. “Berarti sebenarnya subsidi itu ga
ada donk”. Jawaban: Sebenernya ini matematika sederhana sih ya. Kalau anda
merasa biaya subsidi itu bisa hilang dengan anggapan Pertamina beli minyak ke
Pemerintah dengan harga biaya produksi maka angka penerimaan negara di sektor
migas ga akan Rp 214,675 Tr (Angka dari tabel di atas di tahun 2012) melainkan
Rp 91,076 Tr (Rp 214,675 Tr dikurangi subsidi 123.599,7). Pertanyaan lanjutan
bahwa secara pembukuan benar ga ini? Kemudian apakah ntar tidak timbul
pertanyaan susulan akan kemana larinya penerimaan sektor migas karena tidak
terlihat di penerimaan negara (padahal penerimaan kecil karena memang minyak
dikasi gratis oleh Pemerintah ke Pertamina.
Kesimpulan:”Sebenernya perhitungan secara umum sudah
benar dengan asumsi kita melihat data di APBN dari DepKeu. Akan tetapi beliau
keliru untuk mengatakan Rp 97,5 Tr itu untung, kenapa? Karena bahwa “untung”
itupun rupanya cenderung turun dan Pemerintah harus memutar otak untuk mencari
defisitnya yah solusinya untuk sementara kurangi subsidi BBM (yah dari pada
utang luar negri, kena demo lagi tar). Inilah yang sering disebut orang jebol
kalau subsidi dibiarkan membengkak karena selisih penerimaan yang kita sebut
“untung” tadi berkurang! dan kita tidak tahu darimana duit buat mencari
kekurangannya untuk menutupi anggaran belanja negara. Kemudian beliau juga
kurang tepat kalau mengatakan subsidi BBM itu opportunity profit. Karena memang
benar besar subsidi harus dihitung di dalam APBN supaya tidak misleading secara
akuntansi dan tidak timbul pertanyaan dikemudian hari akan kemana hasil dari
minyak bumi Indonesia.
PESAN : Bagi yang merasa trit ini membantu saya
minta untuk kasi bintang 5, bukan supaya gaya2-an, tetapi supaya ga semakin
banyak orang tersesat mengatakan bahwa Pemerintah itu untung dan subsidi BBM
itu fiktif :D.
Jika
dilihat dari penjabaran beliau diatas benar-benar sangat luar biasa. Dan pada
akhirnya pernyataan mana yang benar? Kedua sisi antara pro-kontra memiliki
dampak positif dan negatif. Jika kita mengkaitkan kepada aksi rakyat sebelumnya
yang salah satunya ada yang bersikap anarkis dalam menyatakan aspirasinya,
apakah mereka semua tahu seluk beluk mengapa BBM naik dan apa dampaknya?
Selanjutnya dari perhitungan pemerintah yang menyatakan untung itu apakah
benar? Atau hanya isapan jempol belaka? Dan pertanyaan-pertanyaan diatas, semuanya
akan kita tahu jawabannya. Dari mana?? Dari kajian isu yang akan kita bahas
kali ini.
Selamat mencari jawaban, dan
jadilah seseorang yang berjiwa bijak dan dapat membaca kasus-kasus masyarakat
dengan smart.
”kita semua akan menjadi penerus-penerus bangsa,
jadi jangan sia-siakan waktu yang anda miliki untuk merubah bangsa ini menjadi
bangsa yang lebih maju. Semangat jiwa muda Indonesia!”
Sumber, tersedia: